Artikel Baru
You are here: Home » Food Combining » Kultweet Erikar Lebang » Protein Hewani Yang Membebani Saluran Cerna – by @erikarlebang
Protein Hewani Yang Membebani Saluran Cerna – by @erikarlebang

Protein Hewani Yang Membebani Saluran Cerna – by @erikarlebang

Di Grup Facebook Food Combining Indonesia sering ada yang bertanya, apakah kita masih boleh konsumsi Protein Hewani. Ya boleh saja asal sesuai juklak dimakan berbarengan dengan sebakul sayuran segar dan bukan dengan nasi, Karena apa ? Silahkan baca di sini

Hari ini kita simak KulTweet dari Erikar Lebang tentang bagaimana Protein Hewani akan membebani saluran cerna apabila dikonsumsi rutin ditambah apabila dimakan dengan padu padan yang tidak tepat ada gambar-gambar usus besar yang sangat menggetarkan hati dan layak direnungi. Silahkan disimak  :

Source : KulTweet @erikarlebang di chirpy di http://chirpstory.com/li/187052

Kemarin ngegym, bersantai di lounge, duduk sebelahan dengan satu Personal Trainer (kayaknya) junior serta seorang bapak-bapak agak ndut

Musik lounge yang biasa jedang-jedung kali ini musiknya soft, jadi pembicaraan antara PT dan kliennya itu terdengar cukup jelas. Ampun deh

Saya sudah 2 dekade ada di dunia gym ini. Segala macam dinamikanya sudah saya alami. Ilmu gizi ngaco memang banyak dimulai dari gym, aslik!

Materi pembicaraan PT dan kliennya ini pas jadi contoh itu. “Pak, makan protein hewani banyakin aja, karbohidrat dikurangin, nasi, mie dll”

“Makan protein hewani itu bikin stamina kita jadi kuat dan otot terbentuknya gampang. Karbohidrat kebanyakan gak jadi apa-apa, lemak doang”

“Kalau malem gak usah makan, minum aja protein shake, langsung tidur. Berat cepet turun dan ototnya jadi besar deh”. Hadeuh ampun kaka’..

PT-PT ini sering banget ngaku jadi ahli gizi cuma bermodal sedikit pengetahuan tentang pola hidup yang sebenarnya ditujukan bagi binaragawan

Gak aneh kalau mereka enteng aja menejejali kliennya dengan protein hewani dengan logika “protein membentuk otot!” Efek samping? Emang ada?

Dulu pernah ada PT yang kenal saya dari gurunya bertanya, “Makan protein memang efek negatifnya apa? Kan gak jadi lemak?” #eaaa

Mungkin PT muda ini harus belajar lebih jauh tentang kaitan ilmu gizi dan fisiologi manusia. Bukan cuma sekedar ‘asumsi menjejalkan protein’

Kalau mereka baca buku kesehatan praktis terkait ilmu naturopati semisal yang sekarang banyak beredar, pasti menyesal mendoktrin salah

Terkait masalah stamina semisal, PT yang pembicaraannya saya dengar di awal, pasti malu kalau tahu sejatinya protein hewani itu sulit cerna

Protein hewani harus dipecah tubuh dalam bentuk asam amino essensial agar sesuai kebutuhan. Proses pemecahannya amat rumit dan memberatkan

Asam amino tadi harus dirangkai ulang, mirip mainan rakitan, baru bisa berguna. Karena rumit, proses perangkaian ini rentan sekali cacat

Bahan baku cacat ini bila dipergunakan untuk membangun sel, berpotensi menghasilkan sel yang juga cacat tidak sempurna. Dipenuhi ‘sampah’

Dari fakta ini aja udah ketauan omongan si PT muda tadi tulalit. Gimana mau berstamina, kalau sistem cernanya kelelahan memproses protein?

Tubuh bisa jadi berotot, tapi kalau basisnya adalah sel-sel cacat? Sama aja handphone yang casingnya keren tapi tiap 5 menit hang melulu

Fenomena menarik terkait stamina bisa dikutip dari catatan riset Dr. Von Berg tentang penarik rickshaw di Jepang puluhan tahun yang lalu

Dia bepergian naik kereta kuda ke satu daerah berjarak 100 km. Waktu tempuh 14 jam dan harus berganti kuda 6 kali. Lama? Normal saat itu

Yang mengejutkan dia, temannya yang berangkat tidak lama berbeda. Sampai hanya berjarak 30 menit. Dan naik rickshaw, kereta ditarik manusia!

Mengejutkan Dr. Van Berg, karena penarik rickshawnya masih orang yang sama dengan yang berangkat berbarengan dia dulu! Kuda aja ganti!

Semenjak saat itu Dr. Van Berg terobsesi meneliti stamina luar biasa para penarik rickshaw. Memang mengagumkan sekali! Ia teliti makanannya

Ternyata para penarik rickshaw punya menu khas, nasi, barley (jewawut), ubi millet (jelai), dan umbi bakung. Dia terkejut, tanpa hewani?

Logika gizi Dr. Van Berg masih terikat pada pola pikir masa lalu (masa itu tentu), “tanpa daging saja kuat begini, bagaimana kalau diberi?”

Ia lalu meriset dengan mengambil dua penarik rickshaw berkekuatan sama. Satu diberi menu harian biasa. Satu lagi diubah menjadi penuh daging

Rickshawnya diberi beban 80 kg! Dan dilihat seberapa lama mereka bisa menempuh jarak jauh tanpa istirahat dalam waktu yang lama

Hasilnya benar-benar mengejutkan Dr. Van Berg!

Penarik rickshaw bermenu khas mereka: nasi merah, ubi, umbi dan lainnya yang tergolong makanan murah, sanggup ‘menarik’ 3 minggu berturut

Sementara penarik rickshaw yang diberi menu sarat protein hewani, setelah ‘menarik’ sepanjang 3 hari, sudah tidak sanggup lagi lalu menyerah

Dari catatan Dr. Von Berg kita bisa melihat fakta, konsumsi protein hewani sama sekali tidak tersambung dengan logika meningkatkan stamina

Masih menganggap temuan Dr. Von Berg tentang protein hewani itu lemah? Mari lihat temuan kamera kolonoskopi Dr. Shinya atas 370.000 manusia

Orang yang mengkonsumsi buah-sayuran segar, biji-bijian secara dominan sehari-hari memiliki usus besar sehat sempurna

BLeifFkCUAISurQ

Sementara mereka yang rutin mengkonsumsi protein hewani menghasilkan karakter usus besar buruk

BLei1d0CcAAeQ4c

Karakter usus besar yang buruk identik dengan kondisi tubuh yang tidak sehat. Ini contoh usus besar penderita kanker

BLek1vwCUAEVwCr

Pelajari data dan temuan fakta tersebut. Memang bisa dibilang baru sekedar hipotesa, tapi itu hal nyata. Ilmu kesehatan real harus aplikatif

Abaikan sesuatu yang faktual hanya berbasis “belum ada penelitian resmi”, sama saja mengacuhkan signal yang diberi Tuhan berbasis birokrasi

Bukan berarti gak boleh makan protein hewani. Makan saja sesekali, tempatkan dalam konteks rekreasional, nikmati tiap mengkonsumsinya

Tapi bukan dalam kapasitas menjadi katalis hidup sehat. Apalagi bila isu “meningkatkan stamina dan membentuk otot” menjadi priotitas utama

Apa artinya tubuh atletis berotot kalau cuma tampilan luar? Dalamnya rapuh penyakitan? Pun berpotensi menghasilkan penyakit berat masa depan

Demikian kibulan ini. Suka sukur gak suka unfollow! Gak follow rese? Protein hewani? Coba colong lunch singa laper di kandang kebon binatang

About Uni Wiwied

Perempuan dan Seorang Istri yang sedang belajar menjadi Enterpreneur, punya usaha membuat Web Marketing, Distro Motor dan Clothing Senang explorasi dengan Canon EOS nya dan sedang belajar hidup sehat dengan Food Combining

2 comments

  1. klo buat bayi gimana ya, apakah berlaku sama dengan orang dewasa ?

    • sama saja mbak,, gak ada bedanya kok

      disini penting nya kita mengajarkan padu padan makan yang tepat untuk berbagai usia
      bukannya protein hewani dilarang sama sekali
      silahkan konsumsi dalam jumlah yang tidak terlalu banyak dan konsumsi maksimal 15% seminggu, sebulan dan lama2 setahun.

      hal ini ada di buku Dr Hiromi Shinya

      apabila ingin mempelajari Food Combining lebih jauh bisa lihat di FAQ y mbak

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.