Artikel Baru
You are here: Home » Food Combining » Kultweet Erikar Lebang » Sakit, Perbaiki Pola Makan dan Konsep Berpikir – by @erikarlebang
Sakit, Perbaiki Pola Makan dan Konsep Berpikir – by @erikarlebang

Sakit, Perbaiki Pola Makan dan Konsep Berpikir – by @erikarlebang

Sakit ?

Gak usah nyalahin Tuhan, coba koreksi pola makan dan minum serta gaya hidup selama ini. Yang pasti bila mau sehat dengan melakukan  dan  perbaiki mental dan tekad agar mudah dalam menjalankannya. 

Karena Tubuh yang diupayakan sehat, akan perlahan-lahan memperbaiki sendiri masalah yang dihadapi. Itu sebabnya dan ampuh

Untuk lengkapnya simak kultweet berikut :

Beberapa kali bertemu teman yang membawa kerabat atau kenalannya yang sakit. Mereka minta dikenalkan apa itu atau

Sakitnya rata-rata kanker. Ada sih yang degeneratif kelas berat. Saya sih bertemu santai-santai aja. Gak model konsultasi apalagi melayani

Dengan kata lain, “dengerin aja apa yang gue omongin, suka sukur, gak suka, yang sakit bukan gue ini”. Jadi ya jangan harap dibaik-baikin

Dengan konsep berpikir seperti demikian paling gak saya terbebas dari direpotkan oleh orang ngeyel atau manja juga mengasihani diri sendiri

Dan diawal ketemuan saya selalu menekankan, “siapkan diri untuk disalahkan, karena yang namanya sakit, pasti ada kontribusi gaya hidup”

“Jangan pernah dengan enteng nyalahin Tuhan: Ini karena genetik, atau gak tau ini sebabnya kenapa? Mungkin cobaan Tuhan?” Siap gue semprot

Tuhan kok disalahin? Memangnya Tuhan dimintai ijin waktu makan sop kaki kambing? Tuhan ditanya waktu minum kopi 3-4 gelas setiap hari?

Apa Tuhan ditanya waktu begadang? Dimintai persetujuan saat malas makan buah-sayuran dengan alasan gak suka? Itu, serta segudang contoh lain

Sayangnya mayoritas ya begitu, waktu ketemu dan ngobrol, jangankan sampai ke sisi paham kenapa harus atau ?

Menerima kenyataan bahwa sakit itu mayoritas kesalahan diri sendiri aja, kebanyakan gak mau terima. Paling enak sih nyalahin pihak lain

Suka gak suka, pihak paling gampang disalahin ya Tuhan

Genetik sih bisa jadi menyumbang masalah. Tapi persentasenya secara nyata sangat kecil. Bisa jadi memang mungkin tubuh lemah di satu sisi

Dengan pola makan yang baik dan gaya hidup yang tepat, kemungkinan besar kelemahan genetika itu tidak akan terekspos dan menjadi masalah

Yang lebih sering terjadi, sel tubuhnya baik, genetika tidak bermasalah, tapi isi meja makan yang diwariskan turun temurun jadi gara-gara

Kakeknya game over karena penyakit yang sama dengan ayah, om dan tante. Lalu saat diri kena penyakit serupa, langsung nembak “Ini turunan”

Lupa kalau turun temurun adalah penggemar berat (misal) steak bakar, bahkan ada resep rahasia yang luar biasa identik dengan keluarga mereka

Lupa kalau antar generasi adalah keluarga malas minum air putih, lebih suka air yang rasa dan berwarna. Lupa kalau semua males makan sayur

Sedihnya lagi, pandangan pesimis (ke Tuhan) demikian didukung oleh dunia kesehatan konvensional yang memang arahnya lebih ke ‘mengobati’

Dunia kesehatannya gak mau terlalu berlarut mencari tahu kenapa, tidak tertarik untuk mencegah (apalagi merawat), “Nyalahin Tuhan?” Yuk mari

Kelemahan genetik yang persentasenya kecil itu, kalau bisa dibesar-besarkan. “Ya sudah, sakitnya kita gak tau kenapa? Fokus diobatin aja”

Seperti lingkaran setan yang membuat dunia kesehatan makin rumit, makin buruk dan makin mahal dari waktu ke waktu

Nah sedihnya mental demikian yang harus saya hadapi saat bertemu dengan mereka yang kepingin tahu lebih jauh tentang misal

dan adalah pola makan yang orientasinya mencegah masalah dan merawat kesehatan, diarahkan untuk ‘penyembuh ajaib’

Beda banget lah orientasinya. Pertanyaan yang paling lucu (tapi paling sering keluar): “Kalau udah sembuh makannya masih harus gini?”

Yak ampun?! Ge-er amat bisa sembuh? Ini kayak orang bikin dosa sama Tuhan, minta diampunin, pas diampunin.. “Hore bisa bikin dosa lagi!”

Sering banget saat bertemu dalam sesi begini, kadang sudah bisa menebak, “Orang ini bakalan sukses atau gagal?” Hanya di awal pertemuan

Kalau reaksinya mengeluh atau mengeluarkan pertanyaan bodoh sejenis itu. Bisa dipastikan, penyakit akan segera take the best out of them!

Tapi kalau orangnya optimis dan punya tekat menjalani. Minimal mencoba dulu. Nah yang kayak gini harapannya besar. Saya biasanya semangat

Karena prinsip dasar atau dalam menghadapi penyakit bukan terletak pada kesembuhannya. Tapi ada yang lebih utama

Orientasinya adalah upaya untuk membuat tubuh sehat terlebih dahulu! Dengan mengkoreksi kesalahan, mengubah kebiasaan, memenuhi kebutuhan

Tubuh yang diupayakan sehat, akan perlahan-lahan memperbaiki sendiri masalah yang dihadapi. Itu sebabnya dan ampuh

Jadi kalau niatnya mau menyembuhkan penyakit, instan, bakalan bingung sendiri saat bertemu metode dengan atau

Jadi seringnya yang harus diperbaiki itu mental dan tekatnya dulu, kalau mau menyehatkan tubuh atau menyembuhkan diri dari penyakit

Males pake closing ah.. Telat makan malem soalnya nih

About Uni Wiwied

Perempuan dan Seorang Istri yang sedang belajar menjadi Enterpreneur, punya usaha membuat Web Marketing, Distro Motor dan Clothing Senang explorasi dengan Canon EOS nya dan sedang belajar hidup sehat dengan Food Combining

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.