Artikel Baru
You are here: Home » Food Combining » Kultweet Erikar Lebang » #KibulanSusu : Tinjauan Dari Sisi Kesehatan – by @erikarlebang

#KibulanSusu : Tinjauan Dari Sisi Kesehatan – by @erikarlebang

Kenali tubuh sendiri, dengarkan, kemudian beri asupan yang benar sesuai kebutuhannya. Bukan hanya sekedar asal masuk kemudian akan menjadi beban saluran cerna.

Susu di tinjau dari sisi kesehatan sangat menarik untuk dipelajari. Saya pribadi sebagai mantan pecandu susu hampir di seluruh hidup saya, sudah merasakan sendiri apa yang di paparkan di bawah ini. 

Berbagai antibiotik sudah masuk ke tubuh, 3 x masuk ruang operasi untuk di ambil amandel, kalenjar dan kalenjar lagi buat saya cukup sudah 🙂 .

Stop minum susu semua masalah selesai. Minum atau makan susu dan turunannya sesekali saja, bila pengen. Tapi ya gitu, kelar di konsumsi pusing ahahahaa … yaaah tubuh emang gak bisa boong yaa 😉

Simak yuk kultweet berikut. 

Open Mind, ini di tinjau dari sisi kesehatan jangan di ambil dari sisi lain. 

Kesehatan itu kita sendiri yang menjaga kok, gak usah di perdebatkan. Kalau sakit yang sakit ya badan sendiri, bukan orang lain kan 🙂 

Baru aja dikontak teman, berterimakasih. Anaknya sekarang sehat. Lincah dan cerdas. “Udah kayak bayi di iklan susu” katanya sambil ketawa

Selama ini anaknya penyakitan, gak lincah dan pasif. Orang tua mana yang gak sedih? Anak itu selalu jadi kebanggaan dan objek kasih sayang

Tapi waktu anaknya penyakitan, hidungnya meler terus semisal. Susah juga orang tua mau membanggakan anaknya ke orang lain, bukan? Kasihan

Ironisnya, klaim anaknya sekarang jadi kayak model iklan susu, itu justru dengan menghentikan konsumsi susu! Kalengan, murni dan UHT, stop!

Jujur saya agak lupa? Dia itu dulu ngobrol sama saya problem spesifik anaknya apa? Yang pasti pas denger anaknya rutin minum susu, ketawa

“Rutin minum susu binatang, ya jangan minta sehat”. Terus orang tuanya ini tergerak membaca dari A-Z. Memutuskan coba berhenti

The rest you know lah

Dia bersyukur, karena sudah deadlock, putus asa kemana-mana pergi ke ahli kesehatan anak, gak sukses. “Anak gue dicoba ini-itu, gagal semua”

Ada sih beberapa dokter anaknya saran coba berhenti minum susu. Tapi karena penjelasan gak meyakinkan, gak percaya. Lah tahunan didoktrin?

Kebetulan komprehensif jelaskan. Jadi dia putuskan, coba aja dulu seminggu-dua minggu. Ntar kalo gak bener, ya lanjutin minum

Ya itu, anaknya jadi sehat banget! Jadi gampang makan yang pasti

Keinget salah satu kerabat dekat, anaknya punya problem kulit yang lumayan kronis. Gatelan terus di sekujur tubuh sampe berdarah digaruk

Sama, dia sudah kesana kemari. Uji sana-sini, bikin larangan ini-itu. Clueless! Akhirnya kesimpulannya satu, “penyebab alergi gak ketauan”

Saya mah udah tau banget penyebabnya apa? Pan anaknya minum susu segala rupa kayak minum aer. Tapi as usual, kalau gak ditanya ya gak komen

Singkat kata, sampailah info ke dia. Sama juga, mau gak mau dia eksperimen. Logikanya juga sama. “Stop aja sementara, lihat”

Dan dia takjub. Anaknya berhenti gatal-gatal dan makannya langsung berubah jadi penggila sayuran! Belakangan jadi penggemar sayur segar

Lucunya lagi, beberapa unsur yang selama ini dilarang karena dicurigai sebagai allergen, pemicu, coba dimakan, eh gak pa-pa tuh!

Jadi inget teman saya, yang ini mah sebut nama aja gak papa, , ngomel. “Sialan tau penyebab asma anak gue gini, langsung aja deh”

Dia eksperimen ekspose anaknya dengan beberapa unsur makanan yang selama ini dianggap pemicu asma, eh beneran anaknya gak kumat!

Orangtua dan mertuanya sempet ngomel karena eksperimen dia plus berhenti konsumsi sesuatu yang dianggap sumber gizi utama selama ini

Saya jadi ingat komentar ahli genetika dunia, Prof. Kazuo Murakami, bahwa ilmu biokimia melihat mahluk hidup seperti mesin, part per part

Dicari tahu struktur dan cara kerja lalu mencoba menjelaskannya sebagai sebuah kesatuan. Konsep breakdown ini biasa disebut ‘reductionism’

“Sesuatu yang menyeluruh, adalah penjumlahan dari sekian bagian-bagian menjadi satu” kurang lebih begitu pola pikir reduksionisme jabarkan

Di dunia kesehatan, lahirnya spesilisasi merupakan pengejawantahan paham reduksi tadi. Memang berikan kegunaan besar dan kemajuan fenomenal

Keberhasilan Dr. Barnard dalam transplantasi jantung adalah satu contoh keberhasilan mutlak paham ini. Tapi menurut Murakami, ada sisi lain

“Kita cenderung dibuat fokus melihat penyakit, tapi tidak melihat si sakit”. Fenomena cangkok organ pun akhirnya punya problem lain semisal

Tubuh menolak organ donor, walau semua ketentuan sudah dipastikan cocok. Sisi individu, si sakit, ternyata berbeda. Seperti kata Murakami

Mirip dengan kasus yang saya bicarakan tadi bukan? Dunia kesehatan konvensional tangani mereka dengan paham reduksi. Anak dilihat as object

Beri obat penyakitnya, tes penyebab alergi dan lain sebagainya. Tapi alpa mencek si anak sebagai individu. Apa kebiasaan hariannya?

Makanya biasakan mawas diri kalau mau sehat. Mulai dari yang sederhana saja.. Tau dan sadar apa yang masuk mulut, paling gak hari ini!

Makan-minum yang berguna untuk tubuh. Beneran berguna, bukan cuma dikira berguna. Belajar sedikit, kenali tubuh kita

Ekspose konsumsi yang berguna sebanyak mungkin. Makanan enak tapi merugikan, ya sedikitkan.. Makin menua, nihilkan.. Kurangi drastis lah

Sama anak juga. Observasi ketat konsumsi hariannya, terutama semakin dini usia. Jangan cari enak, asal makan, asal kenyang. Sakit? Ke dokter

Enak aja. Dokternya kesian. Ketimpa masalah yang bisa jadi penyebabnya adalah kebiasaan buruk harian si anak dan orang tua

Demikian kibulan ini, suka sukur. Gak suka unfollow. Gak follow bawel? Anggap kesehatan kayak rawat mesin? Ya udah kalo laper, minum bensin!

About Uni Wiwied

Perempuan dan Seorang Istri yang sedang belajar menjadi Enterpreneur, punya usaha membuat Web Marketing, Distro Motor dan Clothing Senang explorasi dengan Canon EOS nya dan sedang belajar hidup sehat dengan Food Combining

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.