Artikel Baru
You are here: Home » Food Combining » Kultweet Erikar Lebang » Diabetes, Ubah Pola Makan Secara Total by @erikarlebang
Diabetes, Ubah Pola Makan Secara Total by @erikarlebang

Diabetes, Ubah Pola Makan Secara Total by @erikarlebang

Diabetes ?

Bukan merupakan penyakit turunan, bukan penyakit genetika tetapi apa yang ada di meja makan berlangsung secara turun temurun dimakan.

Cara mengobatinya sebenarnya mudah, ubah secara total POLA MAKAN. Konsumsi makanan yang nilai alaminya tinggi, seperti buah dan sayuran segar. Biji-bijian yang diolah sendiri dalam wujud bersahabat ke tubuh

Silahkan simak KulTweet Erikar Lebang berikut :

————————————

Hari ini ditanya teman tentang fenomena gula darahnya yang meroket dalam beberapa waktu terakhir. Dan diperingatkan oleh lingkungan sekitar

Kebetulan keluarganya memang divonis sebagai “keturunan diabetes”. Nah, kebetulan teman ini diberitahu oleh rekan lain tentang saya

Dia diberitahu, bahwa saya selama ini mengedukasi tentang konsep “sehat itu masalah pribadi bukan masalah keturunan/genetika”, dia penasaran

Seperti biasa, gaya saya menyebalkan saat ditanya tentang konsep genetika dalam diabetes. Jawaban klasik keluar: “Tuhan kok disalahin?”

Lagipula teman ini sekali lihat aja ketauan kok, kalau diabetes keluarganya itu bukan melulu terkait genetik, wong badannya semog mampus!

Montok lebih pas lah.. Kalau seksi mah amit-amit, kecuali kalau orientasi saya agak melenceng dari normal. Sejak menikah, ya makin montok

Ini sih tipikal banget pola makan yang kaya dengan elemen perusak kestabilan tubuh. Salah satunya biang kerok gula darah yang melulu meroket

Dia sempet ngeles, “Keluarga gue emang turunan diabetes”, saya tetap ngeselin jawab: “Ketimbang nyalahin Tuhan, cek isi meja makan kalian”

Saya berani bertaruh dari jaman kakek buyut dia, sampai nanti ke anaknya kalau sudah berkeluarga sendiri, pasti ragam penghuni mejanya mirip

Ya jangan heran kalau diabetes kompak di keluarganya. Dia agak tergelitik waktu tebakan saya benar, “Darah tinggi dan stroke ada juga gak?”

“Kalau darah tinggi dan stroke juga masuk dalam repertoire penyakit keluarga kalian, mosok iya Tuhan sekejam itu bikin manusia?” ledek saya

Diledek saya bertubi-tubi, perlahan dia mulai menyadari, doktrin diabetes itu penyakit turunan adalah ide yang bodoh serta tidak realistis

Dia lalu tanyakan pada saya tentang logika pemakaian obat untuk menjaga tingginya kadar gula darah dalam tubuhnya. Wah, alamat diledek lagi

Dia rupanya mendapat informasi, doktrinisasi kalau saya bilang, “bila diabetes sudah menyerang penekan gula darah adalah obat seumur hidup”

Saya berikan saja logika sederhana pada dia, “Kalau di rumah elu bolak-balik kemalingan karena pagernya gak ada, jadi polisi rutin ke rumah”

“Pilh opsi mana? Rutin datengin polisi ke rumah tiap kemalingan atau pasang pager?” Dia ketawa, “Ya pasang pager lah”, “Kenapa?” tanya saya

“Bisa dikeplak polisi gue kalau kemalingan melulu, dan lama-lama ya bangkrut lah”. Nah, logika sama dengan orang diabetes bergantung obat

Sebagai cucu dari nenek yang dua-duanya meninggal karena diabetes, saya kenyang mendengar keluh kesah orang yang divonis minum obat terus

Obat penurun gula darah punya banyak efek samping mulai dari yang ringan seperti sakit perut berkepanjangan, sesak nafas, sampai liver rusak

Ini sama dengan logika, bukannya masang pagar yang melindungi rumah, kita lebih senang mendatangkan polisi untuk urusan kemalingan

Bukannya mengkoreksi pola makan yang menyebabkan gula darah mudah meroket, kita malah lebih bergantung pada konsumsi obat-obatan

Teman saya agak mengernyitkan dahi saat bicara masalah perubahan pola makan, dia mengaku, “saya sudah gak makan gula dan kurangi nasi lho”

But the truth is, dia sebenarnya tidak berhenti ‘makan gula’, tapi mengkonversi beberapa bagian dari konsumsi gulanya dengan gula diet

Ini sih sama aja mindahin diri kita dari kandang macan laper ke kandang buaya lagi dipaksa diet. Lari dari masalah lain, ketemu masalah baru

Walau sering ‘dingelesi’ oleh produsennya dengan kalimat, “belum ada bukti valid ilmiah” pemakaian rutin gula artifisial sangat berbahaya

Unsur pengganti rasa manis dalam gula artifisial seringkali adalah unsur kimiawi yang sangat berbahaya bagi otak dan sistem syaraf tubuh

Teman saya segera mengiyakan kalimat ini, “Wah pantes gue jadi lebih sering pusing dan migren akhir-akhir ini”. Nah, itu udah ngalamin!

Terus ke sisi dia sudah mengurangi nasi. Secara logika konsep dia untuk mengurangi sebenarnya cuma jadi urusan porsi yang semu belaka

Logiknya begini, kalau biasanya saya sekai makan porsinya dua piring nasi putih, mulai sekarang cuma satu piring! Masih laper? Makan roti

Meh! Sama aja bohong!

Gak tau siapa yang mengedukasi teman saya ini, kalau nasi putih itu gak bagus untuk diabetes, lalu saat pindah makan roti, dikira aman?

Itu sama dengan pilihan antara mau bunuh diri dengan pisau komando atau pisau dapur. Beda wujud, tapi sama-sama bisa bikin mampus!

“Iya, biarpun roti gandum juga, rata-rata jenis favorit yang empuk dan enak itu, komposisi aslinya cuma roti biasa dikasih gandum dikit”

Teman saya pusing protes terus pada kenyataan bertubi-tubi ini. Jawaban final saya singkat ke dia, “Yang nanti menderita elu, bukan gue”

Problem penyakit yang disebabkan oleh diabetes soalnya gak main-main, bukan dalam wilayah ‘mati mendadak’ kayak sakit jantung semisal

Penyakit yang diderita akibat masalah terkait gula darah itu, rata-rata tergolong MPP, bukan masa persiapan pensiun, tapi Mampus Pelan-Pelan

Dari mulai disfungsi ereksi, luka sulit sembuh, lumpuh hingga kebutaan yang gradual. Bagi yang tadinya sombong akan kebugaran? Menyakitkan!

Konsumsi obat penurun gula darah tanpa mengubah pola makan kalau menurut pengamatan Dr. Okamoto, yang sering menangani masalah gaya hidup

Sejatinya secara jangka panjang tetap tidak mampu mencegah kenaikan kadar gula darah dan Hemoglobin A1c, hal yang identik penderita diabetes

Mengubah pola makan, gaya hidup total adalah satu-satunya cara mengatasi masalah degeneratif seperti diabetes ini. Bukan dengan minum obat!

Perubahan pola makan bukan melulu terkait doktrin hal-hal yang anak kecil juga tau, “kurangi gula”, “jangan gendut-gendut”, “jangan rakus”

Mengkonsumsi makanan minim guna seperti nasi putih, makanan diproses lama, makanan-minuman pabrikan, contoh rutinitas yang harus distop

Kebiasaan mengkonsumsi kopi atau teh atau minuman energi sebagai alat untuk mendongkrak performa tubuh juga rentan merusak kesehatan

Karena seringkali tubuh dipaksa menggunakan jalan darurat menaikkan kadar gula darah secara mendadak untuk mendapatkan energi sesaat

Konsumsi makanan yang nilai alaminya tinggi, seperti buah dan sayuran segar. Biji-bijian yang diolah sendiri dalam wujud bersahabat ke tubuh

Beras hitam, merah dan cokelat semisal. Intinya menyesuaikan pola hidup kita dengan alam, karena memang Tuhan mendisain tubuh kita begitu

Demikian kibulan ini, suka sukur gak suka unfollow, gak follow bawel? Hobi manis? Siram aja satpam kumisan galak pake gula cair trus jilatin

 

About Uni Wiwied

Perempuan dan Seorang Istri yang sedang belajar menjadi Enterpreneur, punya usaha membuat Web Marketing, Distro Motor dan Clothing Senang explorasi dengan Canon EOS nya dan sedang belajar hidup sehat dengan Food Combining

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.