Artikel Baru
You are here: Home » Food Combining » Kultweet Erikar Lebang » Buah, Sumber Enzym Tanpa Tanding, Bukan Untuk Ditakuti – by @erikarlebang
Buah, Sumber Enzym Tanpa Tanding, Bukan Untuk Ditakuti – by @erikarlebang

Buah, Sumber Enzym Tanpa Tanding, Bukan Untuk Ditakuti – by @erikarlebang

Buah, adalah Hadiah Dalam Bentuk Nyawa” dari alam bagi kehidupan manusia, juga “Sumber Enzym Tanpa Tanding” . Konsumsi buah dengan cara benar tidak akan menghasilkan sesuatu hal yang buruk. Konsumsi buah di pagi hari untuk membantu sistem cerna, konsumsi buah 15-30 menit sebelum makan atau 4-5 jam setelah makan, itu adalah cara yang terbaik. Mau buah potong atau pun di jus asal caranya benar bukan untuk di takuti

Simak penjelasan tentang buah yang menjadi sumber enzym tanpa tanding berikut ini dari Kultweet Erikar Lebang, cekidot :

BAGIAN 1

Untuk setiap statement kontroversial, perhatikan logika penyertanya. Masuk akalkah? Sesuai ilmukah? Objektif atau sekedar opini subyektif?

Nanti deh saya buat kultwit tentang buah segar, mulai merisaukan sepertinya

Buah! Apakah benar menakutkan? Apakah benar dia berbahaya? Mari kita luruskan dalam bahasa jelas dan sederhana, agar banyak yang bisa paham

Buah sedang dirisaukan karena dianggap mengandung fruktosa, gula buah, yang ‘dituduh’ penyebab diabetes, karena mampu melonjakan gula darah

Benarkah demikian? Sebaiknya kita fokuskan pandangan pada hal yang lebih jadi pangkal biang keladi masalah, dibeberkan lebih jelas, “gula!”

Gula, adalah salah satu bentuk hidrat arang. Identik rasa manis, berantai pendek, dan terkait dengan pemakaian daam makanan-minuman

Gula terbagi dalam dua jenis bentuk monosakarida (gula tunggal) dan disakarida (gula ganda). Yang tunggal lebih egois, yang ganda gak #EhNgawur!

Sebelum berumit ria dan memusingkan, mari kembali ke “Erikar style”, bicara dengan ‘bahasa bodoh’, agar sesuatu yang rumit jadi terasa mudah

Monosakarida, bisa disederhanakan sebagai contoh dari gula dalam bentuk sederhana. Apa saja contoh umumnya? Fruktosa (gula buah) dan glukosa

Disakarida secara sederhana tentu bisa diartikan sebagai gula dalam bentuk yang lebih rumit dari monosakarida, contoh Laktosa (gula susu)

Tapi pengertian ini agak sumir dalam kehidupan keseharian, bahkan bisa dibilang jadi pangkal ketidak tahuan orang akan pemanfaatan gula

Kita lebih mudah mengklasifikasikan gula sebagai ‘Gula Murni’ serta ‘Gula Prosesan’. Disini konsep gula bisa dipetakan secara lebih objektif

Gula murni, kita bisa mendapatkannya dari buah-buahan segar, madu alam, kadang di sisi lain kita pun mengenal tumbuhan pemberi rasa manis

Sedang gula prosesan, jelas merupakan produk artifisial yang lahir dari kemampuan manusia merekayasa, gula pasir, permen, sirup dan lainnya

Kenapa gula identik dengan hal buruk dalam kehidupan? Sebenarnya lebih ke sisi sumirnya pemahaman akan fungsi gula itu sendiri

Gula akan diproses oleh tubuh untuk jadi sumber energi. Bila asupan dan kebutuhan tersebut tepat, tidak ada masalah, tubuh sisakan sedikit

Sisanya disimpan dalam bentuk glikogen, dalam liver dan otot. Sisanya lagi disimpan dalam bentuk lemak, trigliserida, tersebar pada tubuh

Yang jadi masalah, apabila gula tadi masuk dalam jumlah melebihi kapasitas dalam berbagai bentuk. Tubuh oversupply! Trigliserida melonjak

Tapi ada masalah lain sebenarnya, saat gula yang masuk terlalu banyak dan terlalu cepat mempengaruhi kadar gula darah. Efek negatif terjadi

Kacaunya sistem tubuh, daya tahan turun hingga sistem saraf rusak. Agar tidak terjadi, tubuh mengaktifkan pankreas dan mengeluarkan insulin

Anggaplah insulin ini yang jadi agen pengejar gula darah supaya kembali ke level normal. Itu bahasa sederhananya tapi ini pangkal masalahnya

Keseringan keluarkan insulin beban kerja kelenjar pankreas jadi terlalu berat. Saat ia rusak, tubuh terancam bahaya diabetes yang kita kenal

Saat pankreas tidak mampu keluarkan insulin secara normal, lonjakan gula darah selanjutnya dalam tubuh menjadi tidak terkontrol lagi

Akhirnya kerusakan tubuh yang tadi berusaha dihindari, semua terjadi secara simultan dan akumulatif, dari mulai mudah sakit hingga kebutaan

Okay, break bentar ya. Ngajar #yoga dulu. Nanti jam 21.15 lanjut lagi

Okay sesi diskusi selesai, mari balik kultwit

Nah, udah paham kesederhanaan kenapa gula bisa merusak? Sekarang masuk ke wilayah yang sedikit agak rumit. Ini kenapa definisi gula dipisah

Gula prosesan, punya karakter yang amat cepat mempengaruhi tingkat gula darah. Semakin cepat ia masuk dalam sistem tubuh, semakin buruk

Sementara gula murni, apabila ia memang benar murni, efek demikian tidak terjadi. Ia cenderung lebih lambat diproses tubuh menjadi energi

Dan jangan lupa, gula buah, fruktosa sebagai salah satu contoh gula murni, punya kelebihan lain yang menjaga kadar gula darah tubuh, serat

Serat akan menahan fruktosa agar lebih lambat mempengaruhi kadar gula darah. Kenapa logikanya itu bisa dibaca disini https://t.co/T4z9UcGxpg

Dr. Christina Moncrief pakar homeopati terkait makan sehat, mengungkapkan dalam buku Detox, fruktosa diserap lambat kadang tidak seluruhnya

Itu sebab ia sangat mengandalkan buah sebagai bahan bakar utama tubuh saat melakukan program detox, karena lonjakan gula darah tidak terjadi

Energi tubuh muncul perlahan namun lebih lama & stabil serta jarang memancing aktifnya pankreas mengeluarkan insulin. Diabetes? Jelas tidak

Jadi prasangka gula buah akan menghasilkan penyakit diabetes jelas merupakan ketakutan yang tidak didasari latar belakang pemahaman jelas

Kalaupun sudah terjadi diabetes, lebih ke sisi pola makan buruk menyeluruh atau dalam skala jauh lebih kecil secara genetik lahir demikian

Gula buah memancing rasa tidak nyaman dalam perut? Sebah, diare, sembelit, rasa perih dan lainnya? Lagi, ini lahir akibat pemahaman buruk

Kita harus melihat karakter buah secara menyeluruh, tidak lagi hanya dari sisi fruktosa, tapi juga serat dan kecepatan tubuh mencernanya

Buah merupakan makanan cepat cerna. Hanya butuh waktu 3 jam, dari buah dimakan hingga mencapai usus! Makanan lain? Dari lambung aja 2-4 jam

Ini memperlihatkan ketidak serasian buah, apabila ia dikonsumsi sesudah atau bersamaan dengan makanan lainnya. Sayuran sekalipun!

Buah yang masuk belakangan atau bersamaan dengan makanan lain, akan terhenti bersamaan dengan makanan lain, sementara waktu urainya berbeda

Buah yang tercampur dengan makanan berkarakter berbeda akan menjadi tidak efisien saat pemakaian enzym dilibatkan untuk memulai proses cerna

Selain itu, inefisiensi kerja sistem cerna akan menghasilkan fermentasi yang berlebihan. Hasilnya? Ada gas dalam organ cerna terbentuk

Perut menjadi terasa penuh dan tidak nyaman (sebah), buang angin menjadi lebih sering disertai bau busuk. Jadi ini bukan salah buahnya

Tapi cara kita memperlakukan buah tersebut. Dalam kasus ini, buah yang dimakan salah, fruktosanya berubah menjadi perusak, tipikal gula

Tapi sekali lagi, ini bukan salah buah, salah fruktosa. Tapi kesalahan tata cara kita mengkonsumsi buah tersebut

Dari semua ahli kesehatan dunia yang mengedepankan kehidupan alami, hampir semua mengemukanan pentingnya mengkosumsi buah secara benar

Saya cuma pernah membaca Dr. Robert Young penulis buku PH Miracle, yang menjadi basis pola makan alkali, berpikir berbeda, tidak untuk buah 

Tapi ia tidak menyinggung masalah fruktosa, menurut dia buah itu adalah pembentuk PH darah asam. Benarkah? Sekali lagi kita harus teliti

Saya membaca berulang kali bukunya, PH Miracle, tersebut. Untuk mendapatkan gambaran, mengapa ia berpendapat demikian.

Lalu saya paham Dr. Young tidak sekalipun menyebutkan bagaimana cara dia dan pasiennya mengkonsumsi buah. Bila buah dikonsumsi sesuai budaya umum, ya normal

Kenapa ia menganggap buah sebagai pembentuk PH darah asam. Jelas karena cara makan yang salah, seperti alasan yang saya sebut di awal

Tapi belasan tahun pasca saya melakukan #Foodcombining dan akrab dengan pola makan sehat yang mengedepankan buah sebagai porsi garda depan

Saya makin yakin dengan apa yang dilakukan, karena dalam buku: “Byoku Ni Narani Ikikata 2 Jissen Hen”, Dr. Hiromi Shinya mengamini hal sama!

Ia malah mengatakan Buah-Buahan Segar adalah “Hadiah Dalam Bentuk Nyawa” dari alam bagi kehidupan manusia, juga “Sumber Enzym Tanpa Tanding”

Makanan bentuk apapun, saat dikonsumsi akan menguras cadangan enzym tubuh. Tapi buah menurut beliau justru menghemat pemakaian enzym

Selain kaya akan enzim yang bisa dipakai tubuh mencerna buah itu sendiri, kadang ada sisa enzim buah masih bisa dipergunakan tubuh lagi

Itu salah satu alasan Dr. Shinya menempatkan buah sebagai makanan nabati sumber enzim yang paling menonjol. Diatas sayur dan biji-bijian!

Dan seperti biasa, kalau seorang gastroenterolog terbaik di dunia, Dr. Shinya bicara tentang sistem cerna, saya gak punya celah untuk bantah

Beliau adalah ahli kesehatan yang sudah teropong 300.000 isi perut manusia antar ras, antar benua & merekam data klinisnya selama 50 tahun!

Kalau terkait sistem cerna dan kesehatan, boleh dianalogikan ahli kesehatan lain baru nebak isi terowongan, beliau sudah sampai ke ujungnya!

Jadi bila saya berikan rujukan tandingan untuk temuan Dr. Shinya, bisa jadi saya seperti menandingkan Ferrari vs Bajaj! Tau diri lah saya

Demikian kultwit saya tentang buah. Bukan sekedar asumsi atau opini pribadi, tapi disertakan juga paparan logika serta pengetahuan terkait

Jadi apakah makan buah itu aman? Baca lengkap kultwit saya dari awal tadi. Dan simpulkan sendiri. Yang rugi atau untung kan Anda, bukan saya

Demikian kibulan ini, suka sukur, gak suka unfollow. Gak follow bawel? Takut makan buah karena manis? Sana celupin dulu dalam jamu temulawak

BAGIAN 2

Meluruskan lagi tentang buah lagi, setelah kemarin kultwit panjang lebar dengan sesederhana mungkin, ternyata ada ‘lubang’ yang luput, jus

Mulai muncul beberapa upaya ‘ngeles’ propaganda buruk buah diperbaiki menjadi “yang dimaksud bukan buah, tapi jusnya buah”. Luruskan lagi

Yang saya bicarakan disini adalah jus segar ya, bukan jus pabrikan, itu sih lain cerita. Kalau yang ini saya setuju, gak ada bagus-bagusnya

Pertama harus dipahami, kalau mau sehat, sesuai dengan struktur-kodrat sistem cerna manusia, 75% menu makan harus buah-sayur segar, per hari

Masalahnya, konsumsi buah dan sayuran segar dalam jumlah signifikan banyak, tidak mudah dilakukan oleh kebanyakan orang. Disini fungsi jus

Jus membuat konsumsi buah dan sayuran segar menjadi lebih mudah. Tanpa harus banyak menyita waktu konsumsi, memudahkan mereka yang gak suka

Nah dalam kasus jus ini kita bicara fokus pada buah, karena yang lagi digonjang-ganjing ‘fitnah’ kan beliau

Pun bisa berkunjung ke web di bio, search tentang #BuahSayur. Ke notes FB saya Erikar Lebang juga bisa, banyak tulisan buah segar disana

Paling gak dengan baca teliti kultwit, eh baca teliti ya, jangan sampe tulalit, bisa ketauan cara mengkonsumsi buah secara benar & kegunaan

Nah semoga kontroversi buah sudah jelas. Jadi kita bisa konsen ke pelurusan “pencemaran nama baik” terhadap jus buah tadi. Kasian

Yang paling banyak sorot buah bikin masalah adalah sisi fruktosa (gula buah)-nya, kultwit kemarin sudah meluruskan. Eh, muncul lagi di jus

Dua cara buat jus, mempergunakan penghancur (pencampur) bernama blender dan ekstraktor bernama juicer. Walau nama terakhir yang jadi generik

Blender mungkin gak masalah, karena semua ornamen buah masih ada di dalam. Kalau juicer, ini nih yang jadi bahan pergunjingan salah alamat

Ada yang mengatakan bahwa juicer menghilangkan seluruh serat dari buah, sehingga yang tersisa hanya air. Gak banyak gunanya bagi tubuh! Wow

Yang bilang gini, gak tau buah itu konten dan fungsinya apa saja bagi tubuh manusia! Asbun? Ya jelas. ‘Air’nya itu pun, jelas berguna sangat

Lalu ada yang bilang, juicer memisahkan serat dan gula dari buah. Jadi yang masuk tubuh hanya gula saja, bahaya! Bikin diabetes! *nyengir*

Pendapat ini walau logis, tapi sebenarnya memperlihatkan pemahaman yang sangat kurang tentang buah dan fisiologi dari manusia

Sekarang gunakan logika sederhana saja, “juicer memisahkan gula dan serat?”. Ambil juicer, pilih buah manis, apel semisal, jadikan jus

Ambil ampas (sering disalah artikan sebagai serat) oleh banyak orang. Rasakan sendiri. Apakah rasa serat tersebut hambar? Gulanya hilang?

Tentu tidak! Ampas dari jus tadi masih menyisakan rasa manis, apakah dengan demikian secara logika, juicernya memisahkan serat-gula? Tidak!

Canggih amat juicer itu kalau bisa!

Sekarang observasi lagi, minum jus yang telah terpisahkan dari ampas. Rasakan baik-baik, bila Anda melakukan cermat, akan terasa serat halus

Terutama di dasar gelas, akan lebih terasa penumpukan serat-serat halus tersebut. Serat tidak selalu terlihat jelas, sebagian kasat mata 

Supaya jelas tentang serat, bisa baca tulisan saya disini https://t.co/I87jEEGCtH 

Kesalahan lain adalah pemahaman tentang gula, kalau anggapannya buah yang dijadikan jus, menghasilkan air gula masuk ke butuh, ya ngawur 

Mungkin ini karena siwer akan beda gula buah (fruktosa) dan gula sehari-hari yang biasa ditemui dalam keseharian, gula pasir semisal 

Jadi dianggapnya kalau minum segelas jus buah, sama dengan minum segelas air putih diberi sekian sendok gula pasir, diaduk hingga larut 

Terkait sifat sesungguhnya dari fruktosa dan cara tubuh menyikapinya baca lagi http://t.co/o4mVjaoIrx tentang penjelasan Dr. Moncrief 

Dari sana kita bisa tahu, sifat dasar fruktosa, berbeda dengan gula sejenis gula pasir, atau gula prosesan keseharian yang sering dipakai 

Jadi jelas kan sekarang? Buah dijadikan jus itu sama bergunanya dengan mengkonsumsi buah itu secara segar. Ada sisi lebih dan kurang, normal 

Tapi ya sama seperti disiplin makan sehat lain, ada juklak dong. Berikut saya ambilkan dari buku Enslikopedia Jus, Dr. Iskandar Junaidi 

PilIh buah untuk dijus yang masih segar dan utuh. Saran saya, pastikan juga jarak waktu panennya pendek, buah lokal jelas pilihan utama 

Cuci dengan baik, gunakan air mengalir, kupas jika tidak yakin akan kemurnian kulit buah (apel, pir misal) contohnya pemakaian lapisan lilin 

Pastikan buah yang dijus matang dengan baik, tidak mengkal dan tidak menjelang busuk 

Jangan campur buah dan sayur, karena karakter kandungan enzymnya berbeda. Jika sayuran kaya mineral dicampur dengan buah manis, hasilkan gas 

Perut akan menjadi seperti penuh, dan tidak nyaman. Sejalan dengan edukasi saya kan? Tidak hanya sebah, juga sembelit, diare dan perih 

Saat buah berdaging tebal diproses dengan blender, bantu dengan memberikan sedikit air putih, memudahkan kerja mesin, lebih nyaman diminum 

Kalau tambahan dari saya, saat meminum jus harus tidak tergesa-gesa. Pastikan ia tercampur air liur. Selipkan di bawah lidah sebelum telan 

Amilase, enzym pada air liur, membantu tubuh memecah pati, sifat dasar dari buah. Nah ketakutan akan fruktosa tadi semakin tidak beralasan 

Jadi ketakutan akan jus buah itu sama saja dengan ketakutan pada buah, tidak beralasan! Sekali lagi, tentu harus dilakukan dengan benar dulu 

Banyak sekali institusi kesehatan berbasiskan naturopati dan ahli kesehatan dunia yang mempergunakan jus sebagai bagian terapi mereka 

Jadi santai aja. Pastikan caranya benar, dan alat bantu Anda memang terpelihara kualitasnya. Variasikan jus buah dengan buah potong segar 

Demikian kibulan ini, suka sukur, gak suka unfollow, gak follow bawel? Takut pada jus buah? Jangan dong, takut tuh harusnya cuma sama Tuhan!

 

About Uni Wiwied

Perempuan dan Seorang Istri yang sedang belajar menjadi Enterpreneur, punya usaha membuat Web Marketing, Distro Motor dan Clothing Senang explorasi dengan Canon EOS nya dan sedang belajar hidup sehat dengan Food Combining

One comment

  1. terima kasih sudah menyimpan kultwit mas erikar. twit2nya adalah yg membuat saya berubah haluan ke FC dan rawfood 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.