Artikel Baru
You are here: Home » Food Combining » Kultweet Erikar Lebang » Bakteri : Kenali Penyebab & Pemicunya – by @erikarlebang
Bakteri : Kenali Penyebab & Pemicunya – by @erikarlebang

Bakteri : Kenali Penyebab & Pemicunya – by @erikarlebang

Kita lebih nyaman konsumsi makanan pabrikan yang berlabel higienis, anti bakteri, padahal makanan itu memicu banyak masalah dalam tubuh.

Sementara makan buah dan sayuran segar serta biji-bijian, ditakut dengan segudang masalah bakteri-virus, belakangan pestisida, salah kaprah

Yuk kenali tentang bakteri dan virus, kemudian kenali penyebab terjadinya penyakit dan kenali pemicunya sehingga tepat sasaran

Cek kultweet berikut ini ya 

Pertanyaan yang sering muncul terkait kebiasaan mengkonsumsi buah dan sayuran segar adalah, “gak takut sama kuman ya? kan gak dimasak?”

Agak repot menjawab ini karena yang saya lakukan adalah akumulasi pengetahuan yang dibangun belasan tahun, pun sampai kini masih belajar

Sementara budaya “ketakutan pada bakteri dan virus” adalah pengetahuan yang dijejalkan pada kita sejak masih kanak-kanak hingga mau mati

Seberapa sering kita berteriak ketakutan saat bayi memasukkan tangan ke mulut pasca dia memegang sesuatu yang kita anggap kotor?

Saat dewasa pun ketakutannya masih gak jauh beda. Lihat saja sekarang ada budaya cuci tangan bersih dimana-mana. Sabun antiseptik laku berat

Selain cuci tangan, budaya ketakutan akan bakteri hadir juga di makanan. Memanfaatkan panasnya api, hukum bakteri mati di suhu tinggi

Semua yang bisa disentuhkan ke panas, disentuhkan deh, sebelum masuk mulut. Ada yang direbus, kukus, goreng sampai bakar. Dianggap steril!

Ada sih logika kuliner disana, bakar misalnya, dianggap beri aroma, kerenyahan serta sensasi rasa tersendiri. Tapi basisnya? Parno bakteri

Bener gak sih? Separno-parnonya kita pada bakteri dan virus. Senapsu-naspunya kita ‘mengapikan’ apapun yang kita makan. Bakteri tetap jaya

Ecoli, botulinum, salmonela, chorela masih aja ngetop! Menularnya pun mayoritas ditengarai lewat makanan. Dengan kata lain? Parno gak ngaruh

Kenapa? Dulu banget saya pernah kultwit tentang perseteruan basis pendidikan kesehatan metode Pasteur vs Bechamp. Ini pangkal awal masalah

Kita bicara pake bahasa sederhana aja. Pasteur percaya biang kerok semua masalah kesehatan di dunia ini adalah bakteri, jadi harus ‘dibasmi’

Sementara Bechamp lebih percaya kalau bakteri dan virus itu memang sudah kodratnya ada di sekitar kita. Jadi pertahanan tubuh yang dikuatkan

Untuk itu Bechamp menekankan pentingnya kita menjaga kesehatan dan kebersihan lingkungan. Sayang jaman itu fasilitas dia masih terbatas

Logika hidup sehat jaman itu kan masih agak repot. Sanitasi pun seadanya, yah toilet aja belum secanggih sekarang. Jadi Bechamp agak gamang

Pasteur lebih gampang. Apa-apa yang dicurigai ada bakteri atau virus, panasin aja, bakar! Beres perkaranya! Gak repot. Jadiah Pasteur menang

Lagian industri juga mudah manfaatkan konsep bunuh-bunuhan bakteri gini. Antibiotik, alat kesehatan yang punya daya bunuh, sabun antiseptik

Jadi jangan heran kita lebih paham bahwa penyakit itu disebabkan oleh bakteri dan virus. Seakan dunia kesehatan kita berputar disitu doang

Sudah merasa nyaman disteril. Makanan direbus, dikukus, digoreng dan dibakar itu bikin tenang. Bahkan kalau perlu di proses UHT, aman gilak!

Lucunya, berapa banyak orang beneran punya ketakutan masalah kesehatan serius terkait bakteria atau virus? Jarang. Lebih serem yang lain

Penyakit degeneratif dan kanker lebih menyeramkan. Apa ini terkait bakteri dan virus? Sayangnya tidak. Ada sih, tapi persentasenya kecil

Yang disalahin Tuhan, karena menciptakan manusia dengan genetik yang lemah pada penyakit seperti itu. Benarkah? PRET! Salah besar

Perkembangan ilmu pengetahuan berhasil mengetahui bahwa penyakit itu disebabkan oleh gaya hidup manusia, mayoritas. Persentase genetik kecil

Amat kecil!

Disini menangnya Bechamp. Konsep bunuh-bunuhan ala Pasteur sisakan banyak masalah akumulatif. Doktrin makanan dimasak harus lama, merugikan

Buah dan sayur yang harusnya kaya akan unsur seperti enzim, mineral, vitamin dan lainnya jadi rusak bila dipanaskan di suhu tertentu

Metode panas membuat manusia juga lebih tertarik mengkonsumsi makanan yang bukan kodratnya, protein hewani. Sensasi rasa dan mitos bekerja

Terkait bakteri-virus, bila kita mempelajari sistem pertahanan tubuh kita, pasti akan terkagum-kagum. Luar biasa kuat, rapi dan canggih

Seperti sistem militer pertahanan terkini, daya tahan manusia bekerja secara luar biasa. Ada tim pengintai, penahan sementara, survey

Musuh seperti bakteri atau virus dideteksi, keterangannya dikirim ke pusat, didata, dianalisa, dibuatkan ‘rudal’ untuk melumpuhkannya

Begitu ditembakkan, musuh lumpuh, akan ada pasukan khusus yang menyergap, ‘memborgol’, lalu membuangnya dari tubuh. Canggih banget deh

Tapi ya itu, untuk kecanggihan bisa seperti itu, tubuh manusia butuh battle ground yang tepat serta pemeliharaan alutsista yang baik

Battle ground dan perawatan alutsista yang bagaimana? Tubuh sehat karena gaya hidup (baca: pola makan) yang tepat! Kalau gak, ya malfungsi

Gaya hidup pola makan buruk, pertahanan tubuh kita terlemahkan. Lawan dimudahkan, jadilah penyakitan. Gak cuma itu saja masalahnya

Karena kondisi tubuh buruk, pertahanan tubuh kebingungan, diseranglah kadang tubuhnya sendiri. Jadi kecanggihan pertahanan itu jadi bumerang

Konyolnya kekacauan itu hadir terbesar dari kacaunya pemahaman pola makan yang jauh dari kodrat manusia tadi. Salah satunya makanan masak

Tubuh manusia didisain canggih untuk melawan ‘serangan luar’. Tapi dia gak didisain canggih oleh Tuhan untuk melawan ‘perusakan dari dalam’

Waktu makanan kita miskin antioksidan, enzim, mineral dan lainnya, tubuh tidak berdaya pelan-pelan. Malfungsi terjadi di sana-sini

Kadang bahkan sekalinya pertahanan tubuh mencoba mengakali masalah model begini terjadi, malah muncul masalah baru yang tidak kalah besar

Penebalan pembuluh darah akibat ‘kolesterol jahat’ semisal. Saat makanan kita miskin antioksidan, paparan oksidasi buat kualitas sel buruk

Salah satu imbasnya adalah pembentukan pembuluh darah yang rapuh, mudah pecah. Tubuh tahu masalah ini. Mekanisme solusi segera dibuat

Kolesterol lengket, yang dikenal dengan istilah Low Density Lippoprotein, dipakai untuk melapisi pembuluh rapuh tadi. Aman? Sementara saja

Lama-lama malah jadi masalah. Tubuh akan terus melapisi areal rapuh tadi, tanpa sadar pelapisan tersebut membuat darah jadi susah lewat

Ini contoh kecil, tubuh gak canggih untuk melawan masalah yang ditimbulkan oleh kita sendiri. Mereka bingung atasi malfungsi organ/sistem

Pengerasan liver, gagal jantung, ginjal, pankreas rusak dan lain sebagainya, tubuh kelabakan atasi itu, karena pemicunya gaya hidup salah

Sementara kita fokusnya pada bakteri-virus melulu, yang sebenarnya tubuh kita sudah canggih atasi. Tinggal dipelihara saja kondisinya

Konyolnya lagi, ketakutan pada bakteri-virus yang sama, kita lebih fokus buat makanan kita yang mestinya menghidupi tubuh, jadi makanan mati

Kita lebih nyaman konsumsi makanan pabrikan yang berlabel higienis, anti bakteri, padahal makanan itu memicu banyak masalah dalam tubuh.

Sementara makan buah dan sayuran segar serta biji-bijian, ditakut dengan segudang masalah bakteri-virus, belakangan pestisida, salah kaprah

Padahal masalah itu mudah diatasi dengan membeli produk organik, ragam teknologi pencucian, tanam sendiri dan lain sebagainya. Enteng lah!

Kalau mau sehat, kenali masalah secara benar. Jangan salah kaprah. Apa penyebab, apa pemicu? Kenali! Jangan malah yang merawat disusahkan

Demikian kibulan ini. Suka sukur, gak suka unfollow. Gak follow bawel? Takut bakteri? Ya udah tiap hari pake helm, jas ujan & sepatu bot aja

About Uni Wiwied

Perempuan dan Seorang Istri yang sedang belajar menjadi Enterpreneur, punya usaha membuat Web Marketing, Distro Motor dan Clothing Senang explorasi dengan Canon EOS nya dan sedang belajar hidup sehat dengan Food Combining

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.