Artikel Baru
You are here: Home » Uncategorized » ASI vs Pola Makan Sehat – by @erikarlebang
ASI vs Pola Makan Sehat – by @erikarlebang

ASI vs Pola Makan Sehat – by @erikarlebang

Simak kultweet tentang ASI terkait Pola Makan Sehat

cekidot

Mau membahas satu masalah yang ‘dituduhkan’ pada saya seputar edukasi kesehatan. Bukan mau meluruskan, as usual sebodo amat, tapi ‘membahas’

Ada sekelompok orang menuduh saya dan teman sekitar sebagai ‘tukang menghakimi’ kondisi orang lain. Dalam sisi apa? Selidik punya selidik

Ternyata terkait konsumsi susu formula sebagai pengganti ASI bagi sebagian orang. Katanya saya terlalu keras menghakimi tanpa peduli kondisi

Ada yang mengeluh katanya si ibu berpaling ke susu formula, karena ASI-nya tidak keluar, tapi dihakimi. Ada yang mengeluh bayinya alergi

Lalu merasa minder terkait edukasi ASI eksklusif. Pun ada yang merengek merasa dihakimi padahal ASI membuat bayinya defisiensi zat besi

Intinya sih semua meminta ‘pembenaran’ atas ‘kesalahan’ masa lalu mereka karena memberi sufor secara rutin pada bayi sebagai pengganti ASI

Disitu kadang saya merasa “ge-er amat sih luh?”. Kurang kerjaan amat menghakimi kalian? Yang disampaikan realita, gak ada urusan personal

Mana pernah ngurusin siapa ngasih apa ke bayinya? Ibu saya sendiri dulu beri saya dan anak lainnya sufor karena gak paham? Saya bela? Nggak

Lah memang salah! Objektif aja. Belajar dari kesalahan supaya gak terulang lagi di masa depan. Bukan berarti pernah salah, lalu permisif

Lagian dalam setiap edukasi saya selalu mengacu pada solusi. Okay, kita bahas isu tadi satu-satu. Kalau rajin ngikut kultwit sih udah pernah

Membesarkan hati orang lain untuk melakukan kesalahan sama, for the sake “I also did that”, itu sih bukan menolong, menjerumuskan namanya

Bicara masalah ASI gak keluar, lalu berpaling pada sufor. Saya mana pernah ngurusin siapa yang melakukan? Yang saya paparkan adalah faktanya

Saya juga gak pernah bahas sisi psikologis, semisal: “sering ASI gak keluar karena si ibu gak bahagia menyusuinya”, itu bukan gaya saya

Kenapa? Karena faktanya banyak busui yang bahagia dan cinta banget sama anaknya tapi ASI-nya tetap gak keluar. Mereka sering merasa dihakimi

Sorotan saya hal faktual yang umum ditemui dari busui dengan ASI macet. Apa? Kebiasaan diet, pingin cepat langsing dan hal pemicu dehidrasi

Jadi solusi saya, busui ya harus mengesampingkan niat ‘crash diet’. Jauhi ikut program ‘langsing ngebut’ Personal Trainer fitness misal

Stop konsumsi obat pelangsing yang umum mengincar pengurangan cairan tubuh drastis, karena itu cara paling gampang. Olahraga pun diluruskan

Olahraga itu membuat tubuh sehat, bukan tubuh langsing. Pilih mode kardio dalam porsi tetap. Minum cuma air putih, jauhi kopi-teh-alkohol

Itu segelintir contoh solusi yang saya berikan. Bukan menghakimi yang beri sufor karena ASI macet. Itu kan pilihan elu, sebodo amat lah

Kalau kemudian ada yang merasa terhakimi karena edukasi tadi. Ya sama juga, kenapa jadi urusan saya? Fokus sama yang dapet manfaat

Lalu masalah alergi ASI. Nah ini ada di fase yang lebih serius. Jarang, tapi memang ada. Saya pun pernah beberapa kali diskusi terkait

Dengan yang mengalami atau tenaga kesehatan yang punya pengalaman menangani. Semua rata-rata menghasilkan kesimpulan sama, “alpa pola makan”

Salah satu rekan ahli kesehatan yang saya tanyakan terkait apakah ibu dengan kasus ASI alergi pada bayi, pernah dibimbing pola makannya?

Dia jawab sambil tertawa, “Lah kan kamu sendiri yang bilang, nanya makan sehat sama dokter, seringnya mirip nanya jalan ke orang kesasar”

“Seringnya sih tidak. Paling kita cari makanan hiperalergenik, penyebab alergi, yang dicurigai membuat si bayi alergi ASI” terus dia ketawa

“Ada dua polemik disini, satu kami dokter rata-rata asing dengan pola makan sehat. Kedua, reaksi alergi paling umum pemicunya susu sapi”

Terus dia gak lanjutkan lagi. Saya sih sudah bisa menebak arahnya. Sering sekali masalahnya gak serumit itu, tapi dibikin seakan rumit

Pastinya sih, pelaku pola makan sehat seperti atau berbasis alkali lainnya, yang dilakukan benar, garis bawahi itu ya…

..Insya Allah, sama sekali tidak memiliki masalah dalam bentuk apapun di ASI-nya. Ini beneran terjadi. Bagi mereka yang hamil berkali-kali

Bisa merasakan perbedaan kehamilan mereka saat sebelum melakukan pola makan sehat dan sesudah melakukannya. Sangat berbeda dalam kualitas

Kalau terkait defisiensi zat besi, saya malah dengar sendiri dari dokter anak langganan saya. Saat beliau mengingatkan tentang ASI ekslusif

“Ingat ya, anak ASI ekslusif itu seringkali mengalami defisiensi zat besi..” tapi saat saya menatapnya tajam, ia mengoreksi omongannya

“Makanya si busui sebaiknya diajarkan cara makan yang sehat. Terus anaknya juga diajak MPASI yang sehat, supaya gak kekurangan zat besi”

Sumber zat besi yang terbaik bagi tubuh itu apa? Sudah ada asupannya dari alam. Tapi tentu yang sesuai dengan sistem cerna manusia

Jangan mudah termakan klaim zat besi terbaik daging merah, hewan laut & unggas. Tubuh manusia tidak didisain konsumsi banyak protein hewani

Rutin saja konsumsi jeruk, stroberi, paprika merah, pepaya, brokoli, jeruk, melon, tomat, mangga, & kentang semisal. Pasokan zat besi aman!

Dan ingat juga. Konsumsi dengan cara yang benar! Itu yang paling penting! Makanya belajar pola makan sehat, contohnya

Kenapa harus belajar? Supaya benar dan proporsional. Banyak orang yang ngaku-ngaku, bukan pelaku. Banyak juga yang gagal karena gak maksimal

Makan tanpa belajar benar, contohnya akan membuat orang makan semua sumber zat besi tadi banyak-banyak, lalu menganggap dirinya Iron Man

Pemakaian sufor bagi pengganti ASI itu mirip dengan jalan keluar darurat. Faktanya pintu darurat itu ada banyak. Sufor, pilihan terakhir!

Sayangnya, pilihan terakhir itu kadang dikondisikan atau diedukasikan sebagai pintu keluar satu-satunya.

Pemakaian donor ASI yang dipilih secara cermat dan baik dari beragam aspek semisal. Itu solusi alternatif selain perubahan pola makan sehat

Repot? Kuncinya memang di komitmen dan niat. Nah disini mulai lagi banyak yang ‘cengeng’ merasa dihakimi gak punya dua elemen itu

Ya udah itu bahasannya. Sebodo amat kalau merasa dihakimi atau diserang. I don’t deal with you guys. Saya cuma menyampaikan fakta

Demikian kibulan ini. Suka sukur, gak suka unfollow! Gak follow bawel? Merasa dihakimi? Baiklah saya ketok palu ya? Tapi di jidat kamu!

About Uni Wiwied

Perempuan dan Seorang Istri yang sedang belajar menjadi Enterpreneur, punya usaha membuat Web Marketing, Distro Motor dan Clothing Senang explorasi dengan Canon EOS nya dan sedang belajar hidup sehat dengan Food Combining

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.